Candi Ngawen Muntilan


Candi Ngawen adalah candi Budha yang berada kira-kira 5 km sebelum
candi mendut dari arah yogyakarta, yaitu di desa Ngawen, kecamatan
Muntilan, Magelang. Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh wangsa
Syailendra pada abad ke-8 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Keberadaan
candi Ngawen ini kemungkinan besar adalah yang tersebut dalam prasasti
Karang Tengah pada tahun 824 M.

Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai
bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat
sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa yang
sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya.
Beberapa relief pada sisi candi masih nampak cukup jelas, di antaranya
adalah ukiran kinara-kinari dan kala-makara.

Sebagai tempat pemujaan umat Buddha, seni arsitektur Candi Ngawen
terbilang unik. Van Erp adalah salah satu peneliti yang memulai
penelitian Candi Ngawen tahun 1909. Tepatnya tahun 1920, ia memulai
ekskavasi candi dengan mengeringkan lahan sawah tempat Ngawen
ditemukan. Kini, candi ini tetap dikelilingi hamparan sawah yang
menawarkan keindahan tersendiri.

Keunikan seni arsitektur candi ini, salah satunya ditemukan pada arca
singa yang menopang empat sisi bangunan candi yang berhasil
direkonstruksi dari lima bangunan yang diperkirakan seharusnya ada.
Gaya ukiran arca singa ini menyerupai lambang singa pada negara
Singapura, dan berfungsi mengaliri air yang keluar lewat mulut arca.

Menurut sumber sejarah, arca singa semacam ini tergolong sulit
ditemukan pada bangunan-bangunan candi di Jawa. Namun, arca model ini
dapat ditemui di beberapa kuil di wilayah Mathura di India.

source: ini

Candi Asu Muntilan

Candi Asu adalah nama sebuah candi peninggalan budaya Hindu yang
terletak di Desa Candi Pos, kelurahan Sengi, Kecamatan dukun,
Kabupaten magelang, provinsi Jawa tengah (kira-kira 10 km di sebelah
timur laut dari Candi ngawen. Di dekatnya juga terdapat 2 buah candi
Hindu lainnya, yaitu candi Pendem dan candi Lumbung (Magelang). Nama
candi tersebut merupakan nama baru yang diberikan oleh masyarakat
sekitarnya. Disebut Candi Asu karena didekat candi itu terdapat arca
Lembu Nandi, wahana dewa Siwa yang diperkirakan penduduk sebagai arca
asu ‘anjing’. Disebut Candi Lumbung karena diduga oleh penduduk
setempat dahulu tempat menyimpan padi (candi Lumbung yang lain ada di
kompleks Taman Wisata Candi prambanan). Ketiga candi tersebut terletak
di pinggir Sungai Pabelan, dilereng barat.

Perlu diketahui nama Asu pada candi ini bukan berasal dari kata asu
dalam Bahasa Jawa ngoko yang berarti anjing. Kata asu adalah hasil
perubahan kebiasaan pengucapan masyarakat setempat dari kata aso atau
mengaso yang berarti istirahat.

Candi Asu ini memiliki ukuran relatif kecil dibandingkan dengan Candi
Borobudur ataupun Prambanan, dan berbentuk bujur sangkar. Di dekat
candi itu juga ditemui Candi Pendem dan Candi Lumbung yang memiliki
ukuran dan bentuk relatif sama. Uniknya di ketiga bangunan candi ini,
di dalamnya terdapat lubang semacam sumur sedalam hampir dua meter
dengan bentuk kotak berukuran sekitar 1,3 meter x 1,3 meter.

Menurut arkeolog Soekmono seperti dikutip dari buku Peninggalan
Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah, sumur itu digunakan sebagai tempat
pemujaan. Pemujaan tersebut bisa ditujukan kepada seorang tokoh
tertentu atau arwah seorang raja.

Masih menurut buku itu, berdasarkan Prasasti Kurambitan I dan II yang
ditemukan dekat situs Candi Asu, ketiga candi ini didirikan tahun 869
Masehi. Kedua prasasti ini dikeluarkan Pamgat Tirutanu Pu Apus yang
menyebut ketiga bangunan itu sebagai bangunan suci atau Salingsingan.

Yang menarik perhatian, hanya beberapa meter di selatan Candi Asu juga
terdapat Sungai Tlingsing. Menurut buku Peninggalan Sejarah dan
Purbakala Jawa Tengah, nama Tlingsing mungkin bisa berasal dari kata
talingsing atau salingsing yang bisa diidentikkan dengan nama
Salingsingan.

Namun yang pasti, berdiri di atas bangunan Candi Asu seperti melihat
permadani hijau. Sekeliling situs dipenuhi kebun sayur-sayuran. Suara
alam berupa kicau burung pun memenuhi ruang sekitar candi.

Namun, sumur di candi ini tidak seperti ditemui di Candi Pendem dan
Asu yang kosong. Sumur di candi ini dipenuhi reruntuhan kubah candi.
Memang menurut Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah, ketiga
bangunan candi ini diperkirakan memiliki kubah. Meski kini pada Candi
Pendem dan Asu, kubah itu sudah tidak terlihat lagi.

DALAM sejarah peradaban Jawa Kuno, sebenarnya arsitektur kubah belum
dikenal di kalangan masyarakat Jawa hingga kebudayaan India yang
membawa peradaban Hindu-Buddha ke wilayah Jawa.

Menurut arkeolog Universitas Indonesia Dr Agus Aris Munandar, seperti
dikutip dari artikelnya yang berjudul Kesejajaran Arsitektur Bangunan
Suci India dan Jawa Kuno, Jacues Durmacay, seorang arsitek yang
mendalami peninggalan arsitektur Jawa kuna, menunjukkan bahwa pada
awalnya bangunan suci atau candi dalam masyarakat Jawa kuno tidak
didirikan dalam bentuk lengkap dengan dinding dan kubah. Sebaliknya,
candi hanya berupa bangunan dasar berupa altar yang di permukaannya
diletakkan obyek-obyek sakral, seperti lingga, yoni, maupun arca.
Dengan demikian, candi- candi pada peradaban Jawa kuno masih bersifat
terbuka dan arca utama bisa dilihat dari luar.

Obyek candi berupa arca semacam lingga dan yoni ini dapat dijumpai di
Candi Gunung Wukir yang berada beberapa kilometer arah selatan dan
hampir mendekati perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tepatnya di
Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam.

source: sumber

Candi Gunung Sari

Candi Gunung Sari adalah salah satu candi Hindu Siwa yang ada di Jawa.
Lokasi candi ini berdekatan dengan Candi Gunung Wukir tempat
ditemukannya Prasasti Canggal. Candi Gunung Sari dilihat dari ornamen,
bentuk, dan arsitekturnya kemungkinan lebih tua daripada Candi Gunung
Wukir. Di Puncak Gunung Sari kita bisa melihat pemandangan yang sangat
mempesona dan menakjubkan. Candi Gunung Sari terletak di Desa Gulon,
Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Candi gunung sari terletak di sebuah puncak bukit, dahulu saat
diketemukan candi ini masih terpendam di dalam tanah. kemudian digali
(permukaan tanah dihilangkan) sehingga dapat terlihat sebuah bangunan
candi, tidak berupa sebuah bangunan candi yang berdiri megah namun
berupa serakan bagian-bagian candi (pondasi candi).

Tambahan,
Pada awalnya penemuan candi sari ini berlangsung tidak sengaja, dan
menurut beberapa warga, meraka tidak tahu menahu tentang adanya candi
bersejarah yang tertimbun dibawah bukit itu, warga mengetahui sejak
ada proyek pembangungan BTS di bukit ini, namun terhenti karena pada
galian pondasi ditemukan benda bersejarah…
namun sayangnya pada beberapa tahun terakhir ini, proyek
pengerukan/penyelamatan candi sudah terbengkalai, bukit sari yang
tadinya sudah dibuatkan jalan untuk akses pengunjung ke puncak bukit
kini sudah hilang, dan susah dilewati kembali, karena sudah dipenuhi
oleh tumbuhan tumbuhan liar.

Main Source: klikdisini

Candi Gunung Wukir Magelang

Candi Gunung Wukir atau Candi Canggal adalah candi Hindu yang berada
di dusun Canggal, kalurahan Kadiluwih, kecamatan Salam, Magelang, Jawa
Tengah. Candi ini tepatnya berada di atas bukit Gunung Wukir dari
lereng gunung Merapi pada perbatasan wilayah Jawa Tengah dan
Yogyakarta.

Menurut perkiraan, candi ini merupakan candi tertua yang dibangun pada
saat pemerintahan raja Sanjaya dari zaman Kerajaan Mataram Kuno,
Kompleks dari reruntuhan candi ini mempunyai ukuran 50 m x 50 m
terbuat dari jenis batu andesit, dan di sini pada tahun 1879 ditemukan
prasasti Canggal yang banyak kita kenal sekarang ini. Selain prasasti
Canggal, dalam candi ini dulu juga ditemukan altar yoni, patung lingga
(lambang dewa Siwa), dan arca lembu betina atau Andini.

Di candi ini pada bangunan utama dari empat bangunan yang ada
ditempatkan suatu arca yoni yang melambangkan wanita dengan ukuran
cukup besar. Kini keempat bangunan candi ini hanya tinggal dasar
bangunan sehingga kelihatan menyerupai altar. Bila melihat sekitar
bangunan itu bisa dijumpai reruntuhan batu candi yang menjadi dinding
dari keempat bangunan candi itu.

Lingga yang seharusnya tertancap di yoni dan menjadi simbol pria juga
sudah tidak terlihat. Beberapa lingga berserak di sekitar bangunan
candi. Selain lingga dan yoni, arca lembu betina atau andini juga
ditemukan di situs candi itu.

Prasasti yang menggunakan angka tahun untuk pertama kali dijumpai pada
prasasti Canggal berangka tahun 654 Saka atau 732 M. Prasasti ini
ditemukan di lokasi situs Candi Gunung Wukir. Prasasti itu
menceritakan pertama kali candi itu dibangun. Benih kebudayaan India
itu disemaikan di lahan yang tepat dan subur. Kesuburan ini ditandai
dengan situs candi yang selalu berlokasi di wilayah pertanian subur.

sumber: sumber

Monumen Bambu Runcing Muntilan

Kalau anda berkunjung ke kota Muntilan, jangan lupa untuk sempatkan
waktu mampir di Monumen Bambu Runcing Muntilan, untuk sekedar melepas
penat, beristirahat sejenak atau sekedar memanjakan perut dengan jajan
di warung-warung tenda di sekitaran monumen bambu runcing.

Monumen Bambu Runcing adalah bangunan khas yang terdapat di kota
Muntilan. Di bangun tahun 70 an yang sekarang menjadi arena taman
bermain bagi seluruh warga Muntilan dan sekitarnya.
Bagi sebagian orang, mungkin termasuk kita, Bambu Runcing punya arti sendiri.
Monumen ini dibangun untuk mengenang para pahlawan yang berjuang
melawan penjajahan dengan senjatakan bambu runcing. Monumen berbentuk
menyerupai bambu runcing ini tepatnya berada disebelah barat kota
muntilan, kab.magelang, jawa tengah, indonesia. ada juga yang berkata
Monumen ini adalah merupakan monumen selamat datang bagi orang yang
akan memasuki muntilan dari arah magelang / semarang.

Suasana di area monumen ini sejuk karena didukung oleh pepohonan yang
rimbun,disekitar monumen ini ada beberapa patung pahlawan memakai
senjata bambu runcing,
selain itu, kini disisi timur monumen Ada juga tempat bermain anak,
ada ayunan, jungkat-jungkit, becak mini, serta patung patung binatang,
Dan disekitarnya juga banyak pedagang lesehan yang menjual aneka
makanan khas dari kota muntilan. Dan disebelah selatan monumen ini
terdapat pusat kerajinan batu prumpung, Disana banyak dibuat patung
patung dari batu. Tempat ini dapat diakses dari Magelang – muntilan –
monumen bambu runcing, Atau bisa juga dari jogjakarta.

didekat area monumen BambuRuncing, terdapat sentra kerajinan batu
pahat yang sangat indah menawan. Banyak seniman-seniman pahat membuka
showroom di daerah prumpung. harga yang ditawarkan juga bervariasi dan
tentunya masih terjangkau 😀
Tak ada salahnya mampir ke showroom seni pahat, sekedar melihat-lihat
atau membeli untuk oleh-oleh sanak saudara atau diri sendiri

diolah dari berbagai sumber:
sumber1
sumber2